
Jakarta (ANTARA) – Penggunaan earbuds Bluetooth telah menjadi bagian dari gaya hidup modern, baik untuk mendengarkan musik, bekerja, maupun berolahraga. Meskipun praktis, kepopulerannya memicu pertanyaan terkait dampaknya terhadap kesehatan, mulai dari isu radiasi hingga risiko gangguan pendengaran.
Mitos radiasi elektromagnetik dan kanker
Kekhawatiran yang paling sering muncul adalah paparan radiasi radiofrequency (RF) langsung di dekat kepala. Earbuds Bluetooth menggunakan radiasi non-pengion (non-ionizing radiation) dengan tingkat energi yang sangat rendah.
Menurut lembaga kesehatan dunia World Health Organization (WHO) melalui laporan radiasi non–pengion dan kesehatan, radiasi non–pengion tidak memiliki energi yang cukup untuk merusak DNA atau sel manusia secara langsung.
Nilai Specific Absorption Rate (SAR) pada earbuds Bluetooth berada jauh di bawah batas aman yang ditetapkan badan regulasi internasional, sehingga klaim bahwa perangkat ini memicu kanker otak belum terbukti secara ilmiah.
Baca juga: Apple mungkin debutkan AirPods dengan kamera bersama iPhone 18 Pro
Risiko kesehatan nyata yang harus diwaspadai
Meskipun aman dari ancaman radiasi mematikan, pemakaian earbuds Bluetooth secara terus-menerus dan tanpa batasan yang jelas tetap membawa sejumlah risiko medis yang terbukti nyata:
- Gangguan Pendengaran (Noise-Induced Hearing Loss): Paparan suara bervolume tinggi langsung ke dalam saluran telinga dapat merusak sel-sel rambut halus di dalam koklea (telinga dalam). Sel-sel ini tidak dapat memulihkan diri atau beregenerasi setelah rusak.
- Infeksi dan Penumpukan Kotoran Telinga: Desain earbuds yang masuk ke dalam saluran telinga dapat menutup sirkulasi udara alami. Kondisi yang lembap ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak, sekaligus mendorong kotoran telinga terdorong lebih dalam (cerumen impaction).
- Kelelahan Telinga (Auditory Fatigue): Mendengarkan suara berdurasi panjang tanpa jeda memaksa otot-otot di dalam telinga bekerja ekstra keras, yang berujung pada gejala seperti telinga berdengung (tinnitus) atau rasa pusing.
Langkah aman penggunaan
Meskipun aman dari ancaman radiasi mematikan, pemakaian earbuds Bluetooth secara terus-menerus dan tanpa batasan yang jelas tetap membawa sejumlah risiko medis yang terbukti nyata:
- Gangguan Pendengaran (Noise-Induced Hearing Loss): Paparan suara bervolume tinggi langsung ke dalam saluran telinga dapat merusak sel-sel rambut halus di dalam koklea (telinga dalam). Sel-sel ini tidak dapat memulihkan diri atau beregenerasi setelah rusak.
- Infeksi dan Penumpukan Kotoran Telinga: Desain earbuds yang masuk ke dalam saluran telinga dapat menutup sirkulasi udara alami. Kondisi yang lembap ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak, sekaligus mendorong kotoran telinga terdorong lebih dalam (cerumen impaction).
- Kelelahan Telinga (Auditory Fatigue): Mendengarkan suara berdurasi panjang tanpa jeda memaksa otot-otot di dalam telinga bekerja ekstra keras, yang berujung pada gejala seperti telinga berdengung (tinnitus) atau rasa pusing.
Baca juga: Samsung tampaknya serius bakal rilis earbuds “clip-on”, intip fiturnya
Baca juga: Huawei FreeClip 2 S rilis di Indonesia dengan harga Rp3 jutaan
Pewarta: Munifa Husna Haryanti
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.












